Aktifis Memperjuangkan Apa? 

Kadang aku penasaran sama aktivis-aktivis yang membela berbagai korban penggusuran itu, kira-kira ada nggak penggusuran yang nggak dibela?

Barusan baca aktifis yang itu-itu aja masih meneriakan dan menyayangkan pembangunan bandara baru Jogja di Kulonprogo. Excuse yang selalu sama, mata pencaharian rakyat dirampas. Katanya.

Well, sebagai penduduk lokal asli Glagah sepertinya aku menyaksikan tetangga-tetanggaku yang sebelumnya hidup seadanya kini jadi super kaya, dari mana lagi sumbernya kalo bukan dari ganti rugi pembanggunan bandara. Bukan ganti rugi malahan, mereka menyebutnya ganti untung.

Dari uang tersebut mereka membangun rumah baru dilokasi lain, yang tentu saja rumahnya jauh lebih nyaman dari sebelumnya. Meskipun nggak sedikit yang kalap langsung beli berbagai macam kendaraan. Tapi pada intinya, tanah yang diambil diganti dengan nilai yang jauh lebih tinggi. Secara kesepakatan, semua pihak menang. Apa lagi yang mau dibela?

Oke, masalahnya emang mata pencaharian warga Glagah yang sebelumnya mengandalkan pertanian juga hilang karena tanah yang dipakai pun ikut dijadikan lahan bandara. Mungkin ini yang ditekankan mereka. Recurring income penduduk lokal menghilang, nggak bisa bertani lagi.

Well,

Apa jadinya hari ini jika jaman dulu nggak terjadi revolusi industri?

Setiap ada pembangunan, pasti dilawan. Dengan dalih pembangunan tersebut mensengsarakan rakyat. Ada nggak sih pembangunan yang nggak dilawan aktifis? Pembangunan manusia pastinya. Tapi bagaimana kita bisa membangun manusianya, mengajak mereka untuk adaptasi bergerak maju, jika pembangunan fisik tatanan tempat tinggal tidak pernah dilakukan?

Pertanyaan retoris ini aku rasa cukup untuk menjawab kekhawatiran aktifis-aktifis yang katanya membela HAM tersebut.

Adapt or die.

 

Jl. Al Basor

Sebelum Tidur

Industri Ritel: Memulai Lagi dari Awal? 

Pagi ini warganet kembali dikejutkan oleh video mesum mahasiswi salah satu toko ritel yang kembali akan ditutup. Dia adalah Lotus dan Debenhams yang lisensinya dipegang MAP.

Sebelumnya, Seven Eleven salah satu conventional store yang punya nama besar pun menyerah di pasar Indonesia.

Kalau ngomongin ritel, bahasannya nggak akan jauh dari demografi masyarakat Indonesia sendiri sih. Gimana consumer behavior disini dalam merespon apa yang ditawarkan retailer. 

Dalam kasus Debenhams sendiri sebenernya udah jadi pembicaraan banyak orang menyusul anak-anak jaman sekarang lebih milih belanja online daripada dateng langsung ke gerainya.

Well, is that the only case?

I’m not quite sure though. Dari beberapa sumber menyebutkan sebenernya switch dari transaksi konvensional ke online ini masih sedikit, sekitar 20%. Jadi, faktor perpindahan model transaksi ini bukan yang utama menurutku.

Masalah daya beli yang melemah (or, is it?) pun turut diraba-raba apakah juga jadi penyebab lesunya industri ritel. Walaupun sebenernya ini jauh lebih arguable lagi.

Bahkan beberapa ekonomis di Indonesia aja kadang bersilangan pendapat dalam memandang situasi ini. 

Apa pun penyebabnya, satu hal yang aku lihat dari industri ritel konvensional ini, mereka harus mulai merevisi bisnis model from the scratch.

Karena, saat ini consumer nggak mengenal mana market leader mana yang market lagger. Semua sejajar, equal, dalam hal tekanan menghadapi disturbance and disruption.

Satu hal yang aku percaya, kekuatan perusahaan ritel saat ini bukan terletak pada capital, tapi lebih ke kapan dan dimana mereka menjual produknya. Karena dengan market place baru (re: e-commerce), SME pun punya kesempatan yang sama dengan perusahaan besar dalam memenangkan pasar.

It’s no longer about the product. It’s about customer experience.

Ketika posisinya udah equal to zero gini, sebagai pengamat udah waktunya sit back and enjoy the game aja. Kira-kira perusahaan mana yang akan memuncaki tangga kerajaan ritel di Indonesia. There will be a new contender for sure.

 

XXI Kramat Jati

Sebelum Nonton Thor: Ragnarok

Masih Tentang Ibu Rumah Tangga dan Wanita Karir

Disela-sela kerja tadi gue sempet baca artikel di Tirto yang ngomongin tentang preferensi pemuda millenial jaman sekarang dalam memilih pasangan, khususnya status sebagai karyawan atau ibu rumah tangga.

Well,

Bahasan ini memang penuh subyektifitas dari status pemudanya itu sendiri: pekerjaannya, pendapatannya, kesibukannya. Dari sini terbentuklah kriteria yang diinginkan lelaki jaman sekarang dalam memilih pendamping.

Kembali ke artikel di Tirto, hasil bahasan disitu menyimpulkan pemuda AS lebih suka jika pasangannya kelak jadi ibu rumah tangga aja, beda dengan pemuda disini yang masih setia dengan: Boleh aja istriku nanti kerja, biar dia lebih mandiri dan punya pendapatan sendiri.

Let me berpendapat in peace here

Status gue udah dobel; sebagai suami dan seorang ayah (dan penggemar setia Via Vallen), dari sini gue udah semakin paham dan yakin mau istri seperti apa yang cocok buat menemani nonton bola tiap malam minggu, atau sekedar buat temen joget ketika lagi galau hehe.

Sebagai banker jadi-jadian, gue melihat rumah tangga itu juga layaknya sebuah Bank. Ada front, middle, dan back office.

Nah, suami itu ada di posisi front office yang kerjanya nyari pendapatan buat keluarga a.k.a nafkah. Sementara istri itu tugas utamanya sebagai back office yang mengelola hasil nafkah tadi. Apakah back office nggak bisa ikutan cari nafkah? Bisa aja, transaksi di bank kan ada admin fee dan semacamnya.

Tapi ya yang namanya back office itu kan tugas utamanya menyelesaikan aktivitas kastemer, dari transfer sampai permohonan kredit. Harus beres urusannya tuh, itu tanggung jawab back office. Makanya, sebelum dia mikirin nyari duit harus dipastikan kwajibannya sebagai istri selesai duluan: dapur, sumur, dan -ehem- kasur tentunya.

Tapi tapi..

Ada yang lebih penting untuk diperhatikan wahai mas dan mbak yang unyu-unyu . Jadi gini..

Bekerja itu nggak cuma ngabisin tenaga untuk ditukarkan dengan beberapa lembar duit. Esensi bekerja tidak serendah itu, wahai anak muda.

Karena, sesungguhnya bekerja itu adalah mengahbiskan keringatmu untuk membuat lingkungan sekitarmu bergerak tumbuh maju kedepan ke arah yang lebih baik. Iyo. Kayak omongan motivator-motivator gitu.

Tapi beneran lho gaes, kerja itu sebenarnya pengabdian pada alam melalui organisasi atau kantormu

Nah, dari sini ada beberapa profesi bagi istri-istri uwuwuwu yang jadi nggak ‘gatuk’ dengan analogi front, middle, back office tadi.

Seperti dokter dan pengajar (guru atau dosen) misalnya, mereka menempati posisi tertinggi dalam daftar profesi tersebut. Karena tugas mereka mulia bor, mereka bekerja demi kemanusiaan, demi society, demi umat.

Satu hal yang gue yakini, memajukan umat itu sama pentingnya dengan mengurus keluarga dan mendidik anak. Jadi selama pekerjaan istri itu impactful terhadap sesama, kenapa kudu dilarang kan?


Oh iya, kalau ada yang nanya siapa yang berperan jadi middle office dalam rumah tangga, gini… ehem, kayak nggak tau aja kalo suami boleh punya istri multiple hehehehehe

 

Menara BTPN, Lt. 35

Disela Makan Siang

Reminder dari Sebuah Buku

Perjalanan pake kereta jadi salah satu timing yang pas buat baca buku (setelah pesawat, tentunya). Termasuk saat ini pas aku lagi mau balik Jakarta buat gawe.

Entah aku yang terlalu framed sama buku kumpulan pandangan ekonomis terbaik negeri ini, atau emang kenyataannya seperti itu. Tapi setelah baca satu topik mengenai ketimpangan dan kemiskinan di Indonesia, aku jadi sadar ternyata ada banyak hal yang sangat urgent untuk dipikirkan sebagai seorang warga. Terlebih karena beberapa hari ini aku cuma menghabiskan waktu dengan mengikuti arus kaum-kaum yang selalu mebesarkan masalah-masalah sepele. Penistaan agama, misalnya. Secara personal, ini penting. Tapi selalu saja ada reaksi yang berlebihan. Sampe melupakan kesepelean masalah ini. 

Helo, people. Think big, wide, and deep! 

Pendidikan, kesehatan, kemakmuran. Ah, mungkin aku aja yang terlalu over thinking.

 

Argo Dwipangga, 3-4D

Perjalanan Menuju Jakarta

Pertanyaan Sebuah Rutinitas

Minggu lalu gue ngambil IELTS Prep Course selama lima minggu full after office jam 18.30-21.00. Capek banget sumpah, makanya masuk kantor kepaksa ngojek dan pulangnya naik busway. Kalo pulang jam 9an gitu udah agak lowong lah, jadi agak nyaman.

Nah minggu ini jam pulang gue udah normal lagi sampe jam lima doang, tapi entah kenapa hari ini masih ngerasa capek banget dan akhirnya pun berangkatnya kepaksa naik Gojek, kontrakan-kantor abis 28ribu pake Gopay. Meh. 

Pulangnya ini yang agak brengsek. Peak hour, terpaksa naik busway. Karena mau ngojek pun nggak ada yang mau ngambil. 

Naik busway lah gue. Pulang tenggo jam 17.07, jalan sampe ke halte Patra Kuningan sekitar 17.15. Akhirnya baru dapet bis jam 17.38. Lama kan? Sebenernya bis banyak, tapi antrinya itu bikin skip sampe 5 bis. 

Gue pun harus transit di Kuningan Timur menuju Koridor 9 arah Pinang Ranti. Disini lebih parah lagi nunggunya. Bis tersendat di perempatan Kuningan Barat karena ada pembangunan under pass. Lamaa banget! 

Akhirnya jam 18.09 baru dapet bis, tapi tadi alhamdulillah dapet duduk soalnya bis pertama jadi masih kosong. 

Long story short, gue sampe halte tujuan di Garuda Tamini sekitar jam 18.53. Masih cepet ini itungannya. Dari halte sini masih sambung angkot, tapi gue milih order Gojek aja. Angkot rese ngetemnya. 

Sampe kontrakan jam 19.00 dan pas buka pintu udah denger adzan Isya aja dong. Gue telat sholat maghrib. Astaghfirullah.  

Jadi kalo pake transportasi umum waktu yang gue abisin di jalan tiap harinya bisa sampe dua jam, itu pulangnya aja. Paginya kalo naik motor sekitar sejam. Total waktu abis buat transport sekitar tiga jam. Which means it is 12.5% dari total 24 jam waktumu sehari. 

Don’t pitty me. Ini kondisi terburuk kalo seandainya gue naik transportasi umum. Kalo naik motor gue baliknya cuma sekitar sejam juga. Nah kebanyakan orang lain sayangnya terpaksa pake transportasi umum. 

So, what most bothers me is that, gimana orang-orang bisa sholat maghrib kalo waktu jam 17.00-19.00 masih ada di jalan? 

Oke, nunggu Maghrib dulu baru balik. Paling aman emang kayak gitu. Tapi lu harus sacrifice waktu sekitar sejam lagi dan itu mengurangi waktu istirahat lu sekaligus waktumu dengan keluarga. Mamam tuh hidup di Jakarta! 

 

Trans Jakarta, Koridor 9A

Duduk di Kursi Merah

Kesempurnaan Cinta

Bukan, bukan… Ini nggak ada hubungan sama lagunya siapa lah itu namanya anaknya Sule.

Rizky. Iya Rizky. Entah Rizky atau Rizki, nggak tau. 

Ini mengenai twit strangers yang quoting Gus Mus kurang lebih seperti ini

Barang siapa yang mencari pasangan sempurna, maka bersiap lah jomblo seumur hidup

Walaupun gue sendiri nggak tau itu bener katanya Gus Mus atau bukan, tapi memang seperti itu kenyataannya dan saya setuju. 

Tapi…

Gue berhasil mendapatkan istri sempurna

Iya, gue mengatakan bahwa istri gue sempurna. Gue yakin banget. Dan itu sebenernya disproving quote diatas.

Sebenernya ini masalah persepsi. Just a matter how you see things. Sempurna dalam diri manusia itu subyektif banget. 

Udah lah mas mbak, give up your perfection standards mau tentang fisik atau personality. Itu nggak penting. 

Karena… 

Bagian paling penting dalam mencintai pasangan itu adalah kemampuan untuk melihat kesempurnaan di setiap ketidaksempurnaan.

Makanya, mau bagus atau jelek keadaan istri gue. Hal itu selalu melengkapi kekuarangan gue. Istri gue sempurna

 

Kereta Taksaka, Stasiun Kutoarjo

Lagi memandang istri yang tertidur

Something Got Me Thinking Like…. 

Well, ketika Liverpool kalah and we hardly need 3 points to climb up ternyata malah imbang juga lawan Stoke. 

But, it got me thinking that actually orang bekerja itu ada 3 level..

1. Bekerja nyari uang

“Ane ngga peduli kerjaannya berat apa ringan, ngerjain apa pun juga ngga peduli, yang penting bisa dapet uang banyak”

2. Berkeja nyari nyaman

“Yah walaupun nggak ngasilin banyak yang penting dapet work-life balance atau bisa kerja sambil tiduran tanpa dimarahin bos”

3. Bekerja nyari manfaat

“Mau berat atau nggak dibayar sekalipun yang penting ane bisa bikin hidup orang lain lebih baik”

Fun fact, don’t you know that some billionaires were end up as philantrophist? Bill Gates, Steve Jobs, Warren Buffet, Tony Stark… 

Lalu apa hubungannya sama sepak bola? Nggak ada. 

 

Kramat Jati, Jakarta Timur

Lagi nonton City vs Spurs

The First Two Days of 2017

Just in case you have a similiar daily activities like mine. I mean, time spending during the day. Hampir semua waktu kosong pasti dipake buat ngecek hp, bahkan saat sibuk pun nyempet-nyempetin kan?

Apa yang lo buka pas megang hp. Browser, Path, Facebook, Instagram, Twitter? 

Apa pun itu, banyak orang udah bilang kalo hp itu salah satu alasan turunnya produktifitas kita. Mereka bilang gitu pun bukan tanpa alasan. Karena tiap lo ngecek hp pasti yang dilihat social network kesayangan lo kan?

Kita merasa terdorong untuk selalu mengamati kehidupan orang lain diluar sana, which it’s actually freakin insignificant to ours. Buat apa? 

That. Tahun 2017 ini gue unistall Path. Social media yang isinya nggak lebih dari sampah dengan bungkusan kesombongan berbentuk gaya hidup. 

Dua hari tanpa Path. It’s fun, gue larinya sekarang ke Twitter. Social media yang lebih jujur menurut gue. Meskipun isinya sebagian kebencian, tapi itu kebencian yang jujur. It’s not made up. 

One made up hatred is still better than one fake luxury I’d say.

Terlebih, gue bisa nemu banyak informasi penting dan keep up to date sama apa yang sebenernya terjadi sama dunia, bukan apa yang terjadi sama temen gue. Worth your time, it’s oke to reach the outter world. 

No matter how wasted your time is, when you get an equal exchanges like information, it is indeed a preciously wasted.

 

Kramat Jati, Jakarta Timur

Di kamar sebelah